Kenapa di Indonesia Tidak Ada Lomba Pembuatan Keju? Ini 4 Alasannya
Oleh: jhonfrengky977 | 24 Juli 2026
Lomba pembuatan keju atau _cheesemaking competition_ dan festival keju sangat populer di luar negeri. Contohnya World Cheese Awards di Eropa/Amerika, atau berbagai festival keju lokal di daerah penghasil susu.
Lalu bagaimana dengan Indonesia?
Acara khusus yang melombakan kreasi pembuatan keju _artisan_ hampir belum ada di Indonesia. Ada 4 faktor utama yang menyebabkannya.
1. Budaya Konsumsi dan Produksi Susu Masih Rendah
Keju bukan makanan pokok/tradisional Nusantara.
Secara historis masyarakat Indonesia lebih familiar dengan olahan fermentasi lokal seperti tempe, tahu, atau tape.
Selain itu, tingkat konsumsi keju per kapita di Indonesia juga masih sangat rendah jika dibandingkan dengan negara-negara Eropa, Amerika, bahkan beberapa negara tetangga di Asia.
2. Industri Susu Segar yang Terbatas
Pembuatan keju berkualitas tinggi membutuhkan pasokan susu segar _raw milk_ yang konsisten.
Sayangnya, peternakan sapi perah di Indonesia sebagian besar terkonsentrasi di daerah pegunungan Jawa dan Sumatra dengan volume terbatas.
Dominasi pasar juga masih dipegang susu UHT, susu kental manis, dan susu bubuk. Bukan untuk industri pengolahan keju pengrajin _artisan_.
3. Komunitas Artisan Cheesemaker Masih Sedikit*
Di luar negeri, lomba keju dihidupkan oleh ribuan pembuat keju skala kecil _artisan/farmhouse cheesemakers_ yang punya resep khas daerah.
Sementara di Indonesia, produsen keju artisan lokal yang memproduksi keju sendiri seperti Gouda, Brie, Mozzarella lokal jumlahnya masih bisa dihitung jari. Baru berkembang di beberapa wilayah seperti Bali, Jogja, atau Bogor.
4. Keahlian & Fasilitas Fermentasi Khusus Mahal*
Membuat keju butuh pengetahuan tentang bakteri starter, enzim rennet, dan ruang pemeraman _curing room_ dengan suhu presisi.
Karena iklim Indonesia yang tropis, fasilitas ini butuh kontrol suhu ekstra. Otomatis biaya edukasi dan investasinya jadi lumayan tinggi.
*💡
Kabar Baiknya*
Walaupun lomba pembuatan keju belum ada, penggunaan keju dalam lomba _pastry_, kuliner, dan _culinary challenge_ di Indonesia sudah sangat umum.
Seiring bertumbuhnya pengrajin keju lokal, bukan tidak mungkin festival keju khas Indonesia akan muncul.
Lomba pembuat keju (cheesemaking competition) atau festival keju memang sangat populer di luar negeri, seperti World Cheese Awards di Eropa/Amerika atau berbagai festival keju lokal di daerah penghasil susu.
Di Indonesia, acara khusus yang melombakan prapabrikasi atau kreasi pembuatan keju (artisan cheesemaking) bisa dibilang hampir belum ada. Ada beberapa faktor utama yang menyebabkannya:
1. Budaya Konsumsi dan Produksi Susu
Bukan Makanan Pokok/Tradisional: Keju bukan merupakan makanan olahan asli Nusantara.
Masyarakat Indonesia secara historis lebih familiar dengan olahan fermentasi lokal seperti tempe, tahu, atau tape.
Tingkat Konsumsi Rendah: Konsumsi keju per kapita di Indonesia masih sangat rendah jika dibandingkan dengan negara-negara Eropa, Amerika, atau bahkan beberapa negara tetangga di Asia.
2. Industri Susu Segar yang Terbatas
Iklim dan Peternakan Sapi Perah: Pembuatan keju berkualitas tinggi (terutama artisan cheese) membutuhkan pasokan susu segar (raw milk) berkualitas sangat tinggi dan konsisten. Peternakan sapi perah di Indonesia sebagian besar terkonsentrasi di daerah pegunungan Jawa dan Sumatra, dengan volume yang masih terbatas.
Dominasi Susu UHT/Bubuk: Sebagian besar pasokan susu di Indonesia diolah menjadi susu UHT, susu kental manis, atau susu bubuk, bukan disalurkan untuk industri pengolahan keju pengrajin (artisan).
3. Komunitas Artisan Cheesemaker Masih Sangat Sedikit
Di luar negeri, lomba keju dihidupkan oleh ribuan pembuat keju skala kecil (artisan/farmhouse cheesemakers) yang masing-masing punya resep dan ciri khas daerah.
Di Indonesia, produsen keju artisan lokal yang memproduksi keju sendiri (seperti Gouda, Brie, Mozzarella lokal) jumlahnya masih bisa dihitung dengan jari dan baru berkembang di beberapa wilayah seperti Bali, Jogja, atau Bogor.
4. Keahlian & Fasilitas Fermentasi Khusus
Membuat keju membutuhkan pengetahuan mendalam tentang bakteri starter, enzim rennet, pengontrolan suhu, serta kelembapan ruang pemeraman (curing room) yang presisi.
Karena iklim Indonesia yang tropis (panas dan lembap), fasilitas pengolahan keju membutuhkan kontrol suhu ruangan yang ekstra, sehingga biaya edukasi dan investasinya lumayan tinggi.
💡 Kabar Baiknya:
Walaupun lomba pembuatan keju belum ada, penggunaan keju dalam lomba pastry, kuliner, dan memasak (culinary challenge) di Indonesia sudah sangat umum. Seiring bertumbuhnya pengrajin keju lokal (Indonesian artisan cheese), tidak menutup kemungkinan festival atau kompetisi keju skala nasional akan muncul di masa depan!
Komentar
Posting Komentar